Warung Online
goopel
Info Lowongan Kerja Terbaru

Thursday, September 13, 2012

Kartosoewirjo postheadericon

Posted by rindang darka | Pada 2:14 AM

Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo lahir di Cepu, Jawa Tengah, 7 Januari 1905 – meninggal 5 September 1962 pada umur 57 tahun adalah ulama karismatik yang memproklamirkan Negara Islam Indonesia (NII) di Tasikmalaya tahun 1949.

Tahun 1901, Belanda menetapkan politik balas budi / etis, Penerapan politik etis ini berakibat banyaknya sekolah modern yang dibuka untuk penduduk pribumi. Kartosoewirjo adalah salah seorang yang berkesempatan mendapatkan pendidikan modern ini. Hal ini disebabkan karena ayah Kartosoewirjo memiliki kedudukan cukup penting saat itu.

Umur 8 tahun, Kartosoewirjo masuk ke sekolah Inlandsche School der Tweede Klasse (ISTK). Sekolah ini sekolah nomor 2 bagi kalangan bumiputera kemudian ia masuk ELS di Bojonegoro sekolah untuk orang Eropa. Orang yang berhasil masuk ELS adalah orang yang memiliki kecerdasan tinggi.

Kartosoewirjo

Di Bojonegoro, Kartosoewirjo mengenal guru rohani bernama Notodiharjo, seorang tokoh Islam modern beralur Muhammadiyah, yang berpemikiran Islam modern, Pemikiran Notodiharjo inilah sangat memengaruhi sikap Kartosoewirjo.

Lulus dari ELS tahun 1923, Kartosoewirjo melanjutkan studinya di Perguruan Tinggi Kedokteran Nederlands Indische Artsen School. disinilah Kartosoewirjo mengenal dan bergabung dengan organisasi Syarikat Islam yang dipimpin oleh H. O. S. Tjokroaminoto dan sempat tinggal di rumah Tjokroaminoto. selain menjadi murid, ia sekaligus sekretaris pribadi H. O. S. Tjokroaminoto.

Ketertarikan Kartosoewirjo mempelajari dunia politik semakin besar, tidak mengherankan apabila nanti Kartosoewirjo tumbuh sebagai orang yang memiliki integritas keIslaman yang kuat dan kesadaran politik yang tinggi karena pergaulan dan hubungan dengan orang-orang berpengaruh dan memikili keilmuan yang pada saat itu turut mempengaruhi pola pikir beliau juga.

Kartosoewirjo

Tahun 1927, Kartosoewirjo dikeluarkan dari Nederlands Indische Artsen School karena dianggap menjadi aktivis politik serta memiliki buku sosialis dan komunis.

selepas itu S. M. Kartosoewirjo bekerja sebagai Pemimpin Redaksi Koran harian Fadjar Asia. ia membuat tulisan yang berisi penentangan terhadap bangsawan Jawa termasuk Sultan Solo yang bekerjasama dengan Belanda.

Dalam artikel yang ditulisnya nampak pandangan politik yang radikal. Ia menyerukan agar kaum buruh bangkit untuk memperbaiki kondisi kehidupan mereka, tanpa memelas. Ia juga mengkritik pihak nasionalis lewat artikelnya.

Kariernya kemudian melejit saat menjadi sekretaris jenderal Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). PSII adalah kelanjutan dari Sarekat Islam, di PSII ia menemukan jodohnya dan menikah dengan Umi Kalsum, anak tokoh PSII Malangbong.

Kartosoewirjo

Kartosoewirjo kemudian keluar dari PSII dan mendirikan Komite Pembela Kebenaran Partai Sarekat Islam Indonesia (KPKPSII),Menurutnya PSII adalah partai yang berdiri di luar lembaga yang didirikan oleh Belanda. Kartosoewirjo menuntut suatu penerapan politik hijrah yang tidak mengenal kompromi.

Menurutnya PSII harus menolak segala bentuk kerjasama dengan Belanda tanpa mengenal kompromi dengan cara jihad. Ia mendasarkan segala tindakkan politiknya saat itu berdasarkan pembedahan dan tafsirannya sendiri terhadap Al-Qur’an, walaupun apa rintangan menghadang, baik itu rintangan dari tubuh partai itu sendiri, rintangan dari tokoh nasionalis, maupun rintangan dari tekanan pemerintah Kolonial sendiri.

Pada masa perang kemerdekaan 1945-1949, Kartosoewirjo terlibat aktif tapi sikap kerasnya sering bertolak belakang dengan keputusan pemerintah, termasuk ketika menolak pemerintah pusat seruan agar seluruh Divisi Siliwangi melakukan long march ke Jawa Tengah.

Kartosoewirjo

menurutnya Perintah long march itu merupakan konsekuensi dari Perjanjian Renville yang sangat mempersempit wilayah kedaulatan Republik Indonesia. Kartosoewirjo juga pernah menolak posisi menteri yang ditawarkan Amir Sjarifuddin yang saat itu menjabat Perdana Menteri.

Kekecewaan Kartosoewirjo pada pemerintah pusat semakin membulatkan tekadnya membentuk Negara Islam Indonesia dan memproklamirkan NII 7 Agustus 1949 serta Tercatat beberapa daerah menyatakan menjadi bagian dari NII terutama Jawa Barat, Sulawesi Selatan dan Aceh.

Pemerintah pun kemudian bereaksi dan membentuk tim operasi menangkap Kartosoewirjo. Gerilya NII melawan pemerintah berlangsung lumayan lama. Perjuangan Kartosoewirjo berakhir ketika ia tertangkapn setelah melalui perburuan panjang di wilayah Gunung Rakutak Jawa Barat 4 Juni 1962,kemudian menghukum mati Kartosoewirjo 12 September 1962 di Pulau Ubi, Kepulauan Seribu, Jakarta.

Ayunda Faza Maudia artis pendatang baru,.baca artikelnya